Bagaimana Cinta Romantis Muncul dalam Sebuah Hubungan?

Seberapa romantis anda dengan pasangan? Kita tentu paham bahwa cinta menjadi sesuatu yang akan selalu dibicarakan dan tak akan lekang oleh waktu. Romantis akan selalu menjadi bagian penting di dalam cinta. Meski beberapa orang berharap mendapatkan cinta yang romantis, tapi tidak seluruhnya mampu melakukan itu. Di lain kasus, ada juga orang-orang yang tak menyukai perilaku dari cinta romantis.
Romantis sendiri adalah kata yang tidak jarang didengar oleh orang-orang. Romantis tidak hanya bentuk dari cinta, namun juga biasa dipakai sebagai istilah untuk memisalkan sesuatu. Seperti ‘suasana yang romantis’, atau ‘sikap yang romantis’.
Definisi cinta romantis sendiri ada bermacam-macam, namun salah satunya, seperti dikutip dari kuisioner cinta yang disusun oleh Clyde dan Susan Hendrick pada tahun 1986, berbunyi “Cinta adalah pengalaman yang mengurasi emosi. Cinta pada pandangan pertama adalah lazim, dan daya tarik fisik adalah penting. Pecinta romantis mungkin sepakat dengan pernyataan: “Aku dan kekasihku punya chemistry fisik di antara kami.”
Dapat disimpulkan bahwa definisi cinta romantis adalah, pengalaman hasrat dan intimasi, seperti dalam hubungan pacaran. Ada pula jenis cinta bernama Passionate Love, yaitu jenis cinta penuh emosi yang terkadang terjadi di awal hubungan romantis. Dan lebih rinci, Berscheid dan Walster (1978), menjelaskan Passionate Love sebagai:
“Keadaan emosional yang liar; perasaan lembut dan hasrat seksual, kegembiraan dan kesedihan, kecemasan dan ketenangan, altruisme dan kecemburuan, yang saling bercampur aduk dalam satu perasaan.”
Di dalam cerita ataupun kenyataan, segala sesuatu dimulai dari dua individu yang tidak saling mengenal. Kemudian, didorong akan suatu hal, dua individu tersebut mengenal satu sama lain dan memulai hubungan pertemanan. Namun, yang menjadi perbedaan adalah, apakah dua individu—terutama dari lawan jenis—ini akan menjadi seorang teman, atau menjadi dua orang yang memiliki perasaan khusus untuk sama lain di masa depannya?
Yang membedakan hubungan platonis dan romantis hanyalah satu kata kunci, ialah Sexual Desire. Seperti yang dituturkan oleh Berscheid dan Walster, cinta romantis yang diawali Passionate Love memiliki hasrat seksual. Berbeda dengan hubungan platonis yang murni psikologis, dan tidak ada keinginan atau hasrat dalam seksual.
Hubungan romantis bisa mengawali dua orang untuk bisa berjalan ke jenjang yang lebih tinggi, seperti pernikahan. Hubungan romantis mengikat dan memiliki komitmen, meskipun ada dua orang yang menjalani hubungan platonis di awal pertemuan, hubungan mereka akan berubah menjadi hubungan romantis ketika pernikahan atau ikatan khusus sudah terjalin di antara keduanya.
Cinta romantis lazim terjadi diantara pria dan wanita dari berbagai kalangan dan usia. Cinta romantis sendiri umumnya terjadi pada dua orang yang awalnya bertemu sebagai teman, atau sebagai rekan kerja, dan lainnya. Novel romansa biasa menyebutnya sebagai ‘takdir’, namun ada banyak hal yang dapat mempengaruhi daya tarik interpersonal yang membuat sebuah cinta romantis terjadi.

Setiap pasangan memiliki preferensinya masing-masing dalam menjalani sebuah hubungan. Tapi yang paling umum adalah menjalani hubungan berbalut keromantisan. Ya, bagi sebagian pasangan, perasaan romantis begitu dicari dan penting untuk dirasakan karena dianggap mampu membuat sebuah hubungan langgeng.

Bagi saya, rasa romantis adalah ‘bumbu’ yang membuat hubungan saya dan pasangan tetap berada di jalurnya. Ada perasaan nyaman ketika percikan-percikan romantisme keluar saat berada di dekat pasangan saya. Saya pun merasa bahwa hubungan kami baik-baik saja; bahwa saya mencintai pasangan saya, begitu juga sebaliknya. Tapi mengapa romantisme dalam hubungan begitu penting?