Perbedaan Film Thriller dan Film Horor, Jangan Sampai Salah Arti

Sebagian penyuka film mungkin masih ada Slot777 yang kesulitan membedakan sinema bergenre thriller dan horor. Keduanya memang memiliki banyak kesamaan, tetapi ada sejumlah perbedaan utama yang menjadi ciri khas pada masing-masing genre.

Baik film thriller maupun horor sangat populer karena membangkitkan perasaan teror pada orang-orang yang menontonnya. Keduanya juga membuktikan bahwa bahkan situasi yang paling tidak berbahaya pun dapat dengan cepat berubah menjadi menakutkan.

Perbedaan

Sangat menarik untuk mengetahui perbedaan antara film thriller dan horor, terutama karena keduanya sangat diminati dan kerap ada rilisan baru. Perbedaan kunci ada di aspek misteri. Film bergenre thriller selalu punya misteri sentral yang melibatkan tokoh utama.

Masalah atau misteri yang akan diselidiki atau diselesaikan tokoh protagonis inilah yang membedakan thriller dari genre horor. Tokoh itu bisa terlibat langsung, atau punya kisah beririsan, misalnya sebagai sahabat maupun pasangan dari korban yang hilang atau dibunuh.

Film The Grey Man yang baru dirilis adalah contoh yang bagus dari genre thriller. Lloyd Hansen (Chris Evans) yang pernah bekerja untuk CIA diminta untuk menangkap Sierra Six (Ryan Gosling). Ada keterlibatan karakter pada situasi misterius yang perlu diselesaikan.

Mungkin ada yang berargumen bahwa film horor juga memiliki misteri. Memang betul, namun bedanya, misteri bukan inti dari keseluruhan film horor. Contohnya, film Scream yang tidak mungkin diklasifikasikan sebagai thriller. Memang ada misteri siapa Ghostface si pembunuh, namun saat misteri terpecahkan, itu bukan akhir kisah.

Fokus Yang Berbeda

Hanya berfokus pada pengungkapan identitas Ghostface akan membuat penonton kehilangan begitu banyak “kesenangan” film horor. Coba bandingkan dengan Knives Out, di mana tujuan utama cerita memang mencari tahu siapa yang membunuh tokoh Harlan Thrombey.

Baik film thriller maupun horor sama-sama bisa memiliki adegan berdarah atau kekerasan, tetapi karakter tidak perlu mati dalam cerita untuk menyebutnya film thriller. Berbeda dengan film horor yang rata-rata melibatkan karakternya terbunuh dalam cerita

Sinema horor bisa memuat sosok menakutkan atau penjahat yang melakukan pembunuhan. Jenis film ini lazimnya memuat adegan kematian mengerikan, kecuali kombinasi komedi horor, di mana momen seram justru dirancang untuk ditertawakan dan tidak terasa menakutkan.

Baca Juga : 6 Perjalanan Romantis yang Bisa Dilakukan Pasangan dengan Aman

Perbedaan lain, karakter utama dalam film thriller kerap berada dalam bahaya besar. Contohnya adalah film Misery yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Stephen King. Sinema ini lebih cocok disebut thriller psikologis alih-alih horor.

Meskipun ada thriller kocak seperti Knives Out, atau The Grey Man yang penuh adegan laga, semuanya masih dijuluki bergenre thriller. Berbeda dengan film horor yang punya beragam subgenre. Turunan sinema horor tidak terbilang jumlahnya.

Ada film horor supernatural, slasher, teen horror, zombie horror, gothic horror, science fiction horror, body horror, neo-noir, found footage horror, dan masih banyak lagi. Penggemar horor bisa memilih film dari beragam subgenre sesuai selera.

Terkadang, sejumlah film memiliki genre kombinasi horor dan thriller sekaligus, dan itu makin sulit untuk dibedakan. Pada akhirnya, penonton mencari film dengan karakter yang kuat, dialog yang terasa akrab, juga momen menakutkan,